Wednesday, February 12, 2014

Eksebis di jalan dan POM bensin

Aku wanita paruh baya, usiaku 34 tahun tinggiku 164 cm beratku 55, cukup chubby menurutku terutama di bagian yang paling disuka lelaki. Tetekku 38c ukuranya. Ukuran yang cukup fantastis dilihat di Indonesia.
Aku sadar aku seksi dan cenderung ke arah hot. Kenapa hot ? Aku memiliki hobby yang cukup aneh utuk orang indonesia, hobby yang sebenernya banyak dipikirkan wanita Indonesia tapi mereka malu untuk mengungkapkannya. Hoby memamerkan tubuh, eksibisionis, dan segala macam julukannya. Berikut ini salah satu ceritaku……
Sore itu agak mendung dan nampaknya gerimis kecil sudah mulai turun. Aku masih berada di toko perlengkapan bayi dan wanita miliku. Rumahku emang gak jauh dari toko, sekitar 2 KM. tapi kalo ujan deras ya cukup membuatku basah kalo naik motor pulang. Mmmmm….. tapi ide nakalku untuk pamer keseksian malah muncul. Aku tutup toko dan masuk ke dalam mengganti kemeja tebal yang kupakai dengan kaos putih tipis dan berleher lebar serta celana jeansku kuganti dengan legging hitam yang berumur 1 tahun sehingga sudah agak tipis kainnya menampakkan pahaku yang putih mulus.
“Mmmmm…. Cukup seksilah” pikirku dalam hati.
Apalagi setelah kulihat di cermin kaosku hanya menggantung di atas pantat sehingga tercetak jelas bulatan pantat dan memiawku, gak ada garis celana dalam karna aku emang sengaja melepasnya.
“Ok siap berbagi kesenangan, mmmmm…. Siapa yang beruntung sore ini ya”, pikirku dalam hati.
Setelah siap dengan kostum eksibku aku menembus gerimis dengan “mio pink” kesayanganku. Hujan bertambah deras, membasahi seluruh bajuku karna sengaja aku g pake jas hujan.
“Show segera dimulai” pikirku dalam hati.
Mendekati lampu merah sengaja aku memperlambat laju “mio” ku.
“Yes pas merah”, sengaja aku tunggu lampu merah.
Pas aku berhenti di barisan paling depan. Sesaat kemudian berhenti di sebelahku 2 anak sma naik motor.
Nampak mereka berbisik, dan aku sedikit mendengar.
“Gus liat tu susu tante yang naik mio”, kata pengendara yang depan.
“Anjrit…. Montok banget… , nggak pakai BH lagi”. Kata si pembonceng.
“Masa sih..??, Wuhh iya… putingnya nembus, gede montok susunya….”, tambah temannya.
Sengaja aku tengok keduanya. “Ngomongin aku ya ?”, kataku.
“Anu gak mbak, kita ngomongin hujan-hujan enaknya nyusu eh minum susu anget”, jawab anak sma yang duduk di belakang.
“Susu susu apa? Susu ibukmu? Kalau mau liat susuku liat aja, nggak usah malu-malu”, kataku.
Ketika mereka masih bengong liatin tetekku, aku langsung tancap gas karna lampu udah ijo. Kulirik lewat spion ternyata motor mereka mati karna gugup.
“Yes… berhasil” dalam hati.
Gak jauh dari rumah aku belok ke pom bensin mini.
“Yes , ini show sebenernya”, hatiku bersorak.
Pom bensin sepi. Hanya ada 2 orang cowok jaga di pompa premium. Aku berhenti tepat di depannya. Sempat liat expresi wajah mereka yang kaget. Dasar cowok kalo liat cewek muka tertutup helm pasti liat ke arah tetek duluan. Apalagi kaos putih tipisku dah basah sempurna.
“Mas isi full tank ya! Sekalian numpang berteduh ya…”, kataku dengan nada menggoda.
“Iiiiya mbak eh bu…”, jawab petugas yang umurnya lebih muda sekitar 20 tahunan.
Sambil mengisi dia melirik tetekku yang besar dan terbungkus kaos tipis yang basah.
“Ujan-ujanan nie mbak?? Kok gak pake jas ujan ??”, tanya penjaga yang udah agak tua.
Sambil merapikan uang di tangannya tapi matanya gak lepas dari tetekku.
“Iya nie pak, jadi basah gini”, kataku sambil mengusap-usap dadaku yang membuat tetekku makin tercetak jelas.
“Mampus lo liat nie tetek gue mantep kan…”, pikiran nakalku muncul.
“Berteduh disini dulu aja mbak nunggu ujan reda”, kata yang muda dengan nada agak gemetar.
“Dasar berani juga dia ngomong gitu, akal mesum”, pikirku.
“Iya deh.., oh ya saya Nana tinggal di Palem Hijau situ”, kataku memperkenalkan diri.
“Abdullah….. “, kata penjaga tua sambil mengusap genit tanganku.
“Ahmad….”, si pemuda mengulurkan tangannya sambil gemetaran.
“Saya parkir mionya di sini aja ya”, kataku memarkir motor agak kedepan.
“Ya gak papa”, kata pak Abdul.
Matanya gak berhenti melihat tetekku dan seolah pengen meremasnya dan menjilat putingnya yang tegak karna aku mulai kedinginan. Aku duduk di dekat mesin besin.
“Kok sepi ya ??”, kataku.
“Maklum ujan“ kata pak Abdul.
“Ada apa sie pak kok liatin saya terus gitu?” kataku sambil menegakkan dudukku jadi tetekku makin tegas menantang.
“Anu mbak, tapi jangan marah ya…, anu apa mbak gak pake baju dalem atau BH ya? Kok pentilnya keliatan??”, kata pak Abdul lagi.
Nampaknya dia berani juga.
“He. Iya pak… maaf ya kalo jadi mengganggu bapak, abisnya saya cuma bawa BH sama CD 1 aja pas kerja, eh daripada basah mending saya copot. Kalo baju ganti sih saya bawa di bagasi”, mampus lo kena perangkap gue.
“Apa gak risih susunya cici diliat cowok di jalan, dan kita berdua disini?”, kata si Ahmad memberanikan diri.
“Yah kalian berdua kayak gak pernah liat tetek cewek aja? Paling bapak dah sering liat tetek istri bapak, masnya juga paling dah pernah liat punya ceweknya”, kataku memancing.
”Yah tapi gak semontok dan seputih itu, tetek eh susu eh apalah namanya, punya mbak bagus montok seksi, ya gak pak Abdul?”, kata si Ahmad.
“Wah makasi pak…., tapi saya bukan cewek murahan lo hanya karna saya gak sengaja berdandan gini (padahal sengaja)”, tegasku.
“Iya saya tau kok mbak, mbak orang terhormat”, jawab pak Abdul.
“Eh mbak saya punya jas hujan di motor belakang, mbak bisa ganti baju kering di belakang trus pulang pake jas hujan saya”, kata si Ahmad menawarkan pertolongan.
“Bener nie mas Ahmad? Boleh deh wah makasih banget”, kataku.
Lalu aku berlari ke mioku dan mengambil kemeja, jeans, dan pakaian dalamku.
“Pak Abdul anter mbak Nana aja, biar saya yang jaga”, kata Ahmad memberi kesempatan pada pak Abdulah.
“Iya mbak mari saya antar, sebelumnya maaf kamar mandinya gak bisa dipake kalo mau ganti di belakang kantor aja, aman kok, motor Ahmad juga disana”, kata pak Abdul tanpa risih lagi sambil melihat tetekku.
Akupun mengikuti pak Abdul ke belakang kantor SPBU, belakang kantor merupakan lorong sempit antara gedung SPBU dan tembok pembatas area SPBU.
“Pak Abdul tolong temenin saya ganti, saya takut ada orang ngintip”, kataku menggoda.
“Bener nie mbak?”, katanya gembira.
“Iya pak Abdul kan orang baik-baik saya percaya”, kataku.
Aku mulai membuka baju, dengan gerakan perlahan seolah striptis. Mata pak Abdul gak berkedip melihat tetekku yang besar dan montok menggantung bebas kini tanpa penghalang apapun. Aku berusaha tambah menggodanya dengan mengusap sisa-sisa air hujan di tetekku.
“Mbak boleh saya….”, kata pak Abdul sambil tangannya maju hendak meremas tetekku. Plak…. Aku tampar pak Abdul.
“Mampus loe, emang loe kira bisa ngentot gratis “, dalam hati pikirku.
“Maaf pak Abdul, saya gak bisa melayani nafsu pak Abdul, tapi…. karna pak Abdul sudah baik dan menjaga sikap, pak Abdul boleh mengocok tongkol pak Abdul sambil liat saya seperti ini, kasian tongkolnya pak itu”, kataku sambil malu-malu menunjuk tongkolnya.
“Bener mbak?”, katanya.
Tanpa menunggu konfirmasi dikeluarkanya tongkolnya yang coklat panjang. Mmmmmmmm…… sebenernya aku pengen ngemut juga sih, walau aku doyan ngentot tapi ya pilih-pilih jangan-jangan pak Abdul suka main sama perek kan bisa ketularan penyakit aku. Pak Abdul terus mengocok tongkolnya sambil mengerang, aduh… lama banget lagi. Akupun mendekatinya dan menarik salah satu tangannya ke tetekku.
“Aaaaaaaaa………, pelan pak”, teriakku, karna pak abdul meremasnya kuat sekali.
Sial bandot tua ini.
“Uhhhhhhhhh……. Ahhhhhhhhhh sssshhhhhhhhh…… mbak…….. jepit dunk di paha mbak aja gak usah di memek, gak bisa keluar nie nanggung “, katanya.
Akupun nungging memposisikan diri doggy style dengan legging yang masih aku pake. Aku jepit tongkolnya di pahaku, dia bergerak maju mundur. Tangannya bergerak ke depan meremas tetekku.
“Oohhh………. mbak…. Nikmat ngentotin mbak nana…. uhhhh……”, desahnya.
Dan crot…. crot… crot…. tongkolnya menyembur membasahi leggingku. Sial nie bandot, gak tau legging kesayanganku di kotorin lagi. Setelah beristirahat sesaat aku berkata.
“Panggilin Ahmad dong pak, saya juga mau makasih sama dia”.
Saat pak Abdul sudah pergi aku turunin leggingku sampai buah pantat. Aku emang sudah horny berat karna eksibisku berhasil dan karna memekku tergesek-gesek saat pak Abdul ngentotin pahaku.
“Ssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhhhh………… ssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhh……… sssssshhhhhhhh…… ohhhhhhh………… ssssssshhhhhhhh………. ohhhhhhhhh………… sssssssssshhhhhhhhhh………. ohhhhhhhhh…………”, desahku sambil tanganku mainin memekku sementara tetek masih kebuka, meski udara dingin badanku hangat karna nafsu.
“Mmmmmmmmmpppppppp……….”, gak sadar Ahmad mengamatiku entah berapa lama.
“Eh Ahmad… makasi jas hujannya ya…, sini…sini, aku mau ucapin terima kasih…, kamu mau minta apa?”, kataku menggodanya.
“Anu kata pak Abdul gak boleh ngentotin mbak ya….? Kalo gitu saya mau tongkol saya di jepit susu mbak dong, saya sering sama pacar saya, tapi punya dia gak gede kaya punya mbak, gak putih lagi ”, katanya lugu sambil meraba tetekku tanpa malu-malu.
”Ok…. permintaanmu aku kabulkan….. “ aku maju mendekatinya dan menjepit tongkolnya di tetekku.
Aku bergerak naik turun jadi tongkolnya serasa dikocok. Gak ada 3 menit dia dah keluar…. Dasar anak muda. Diapun tersenyum puas. Aku mulai berkemas melepas semua legging yang tinggal menempel satu-satunya di tubuhku. Mengelap peju Ahmad di tetekku dengan leggingku. Ahmad bangun dari duduknya dan membantuku berpakaian, kekagumannya belum habis pada tubuhku, pantat, tetek, memekku (yang belum waktunya dia rasakan) semua dia raba dan pegang. Sambil membantuku memakai CD dia mengusap-usap memekku dan saat aku memakai BH ku dia meremas-remasnya dengan alasan biar pas posisinya, dasar anak muda yang aneh. Setelah berpakaian lengkap akupun pulang dengan jas hujan pinjaman.
Sampai di rumah cuma ada keponakanku Doni yang setia menungguku, Akhirnya aku ngentot dengan Doni seperti biasa saat suamiku pergi. Kami bergumul sangat hebat karna aku udah foreplay duluan dengan hobi eksibis kesukaanku.