Saturday, May 28, 2011

Sperma lelaki lain di celana dalam istriku

Begitu turun kapal di pagi hari di Tanjung Priok, Giman tetangga sebelahku telah menungguku. Dia menggelandangku untuk mampir makan di Saiyo Bundo warung Padang kesukaanku tidak jauh dari dermaga. Sembari makan dengan rakusnya, dengan penuh antusias dia menceritakan bahwa beberapa hari terakhir ini dia melihat dengan perasaan curiga. Seorang lelaki, usianya sekitar 52 tahun, 15 tahun lebih tua dari aku, selama minggu-minggu terakhir ini, setiap dini hari termasuk tadi pagi, sekitar pukul 5, nampak keluar dari rumahku. Dia curiga istriku pasti telah berselingkuh dengan lelaki itu.

Mendengar omongan Giman teman akrab dan tetanggaku yang tak pernah kuragukan jujur dan tanpa pamrihnya sepertinya aku sangat terpukul. Shock. Aku limbung. Jiwaku sungguh-sungguh tergoncang. Aku jadi merasa kecil, disepelekan, diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan.

Langsung terbayang di mataku. Seorang lelaki tua seumur bapaknya menggauli dia, Warni istriku yang baru berusia 28 tahun itu. Mungkin lelaki tua yang kekar berotot sebagaimana yang sering diinginkan Warni padaku agar banyak berolah raga supaya tubuhku kekar berotot. Lelaki tua itu bercumbu, berasyik masyuk melepaskan syahwat birahinya pada istriku.

Terbayang bagaimana istriku yang sangat mendambakan lelaki berotot menggigiti dadanya yang gempal penuh otot dengan sepenuh gairah birahinya. Tentu Warni mendesak-desakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan kubayangkan pula bagaimana Warni mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya.

Aku paham ke-liar-an Warni saat orgasmenya datang menyerbu. Kubayangkan dia bergelinjang sambil menggeliat-geliatkan pinggulnya untuk menahan gatal syahwatnya. Saat dorongan ejakulasinya mendesak-desak untuk muncrat dari lubang vaginanya, tangan-tangannya pasti akan mencengkeram atau mencakar punggung Pak tua itu hingga membuatnya luka dan mengeluarkan darah.
Bayangan-bayangan diatas semakin membuat aku sebagai lelaki atau sebagai suami yang tak ada artinya. Aku sepenuhnya menjadi pecundang yang akan melata terseok-seok di tanah.

Tetapi aneh.. Dan mengherankan. Kenapa bayangan pada Warni istriku telah membuat aku demikian tercampak itu tidak juga membakar rasa cemburuku. Ada lelaki lain hadir yang selalu berasyik masyuk dengan istriku saat aku berlayar di tengah lautan. Aku yang berlayar demi kehidupan perkawinan dan masa depanku bersama Warni yang telah 5 tahun ini kunikahi.

Aku memang merasa terbakar atau terpanggang hidup-hidup. Aku seakan telah menggeliat-geliat tanpa mampu menghindarkan panasnya rasa amarah, tetapi bukan cemburu. Bahkan kemaluanku mengeras. Penisku ngaceng tegak mendorong dalam celanaku. Benarkah terjadi? Mungkinkah pukulan itu langsung merubah kepribadianku? Merubah oreientasi seksualku?

Ah, aku harus menyangsikan cerita Giman ini? Apa dia tak salah lihat? Bukankah Warni selalu menunjukkan cinta dan kesetiaannya padaku selama ini? Walaupun tetangga sebelahku ini kuyakini sebagai orang yang paling jujur dan baik, aku tidak boleh begitu saja percaya pada ceritanya. Sebaiknya aku lekas pulang. Aku harus menyaksikannya sendiri.

Warni nampak terkejut saat aku muncul di pintu. Memang seharusnya aku belum pulang. Tetapi karena kapalku harus mengisi bahan bakar maka aku bisa pulang ke rumah. Aku tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa saat ketemu istriku. Aku merangkulnya dengan hangat sambil mencium jidadnya. Demikian pula Warni. Dia menyambutku dengan penuh rindu. Ia cium pipiku dan kemudian merembet ke bibirku. Dia melumat kumis dan bibirku. Kami berasyik bertukar lidah dan ludah. Aku sempat meremas kecil payudaranya yang masih 'getas' itu. Sesungguhnyalah istriku Warni adalah perempuan yang sangat cantik.

Tampilan Warni sangatlah menggemaskan mata para lelaki. Aku harus menyisihkan banyak saingan saat aku melamarnya. Di lingkungan desanya Warni adalah kembangnya. Kecantikan Warni sering jadi bahan omongan para lelaki baik yang masih bujangan maupun yang sudah beranak pinak.

Menurut pendapatku kecantikan Warni adalah jenis kecantikan alami yang mudah membangkitkan syahwat. Tubuhnya padat dan kencang. Dengan ukuran tubuhnya yang sedang saja mepakai baju apapun Warni akan terlihat luwes dan pantes. Bibirnya, lehernya, anak-anak rambutnya pada tengkuk atau jidad, dadanya yang bidang dengan buah dada yang hhuuhh.. Sungguh membuat penis lelaki langsung ngaceng ingin merasai nikmat legit vaginanya.

Pinggul dan pantatnya sangat serasi saat berjalan, membungkuk ataupun duduk. Dan melihat Warni saat melenggang di jalanan sepertinya orang Jawa bilang 'macam luwe' atau harimau yang lapar. Langkah-langkah kakinya saat bergerak maju yang diikuti oleh ayunan pinggul dan pantatnya serta lenggang lengan serta ayunan bahu.. Wwoow.. Aku tak mampu menceritakan keserasian yang sarat dengan pandangan birahiku.

Dan kenyataan yang lebih hebat lagi, Warni seperti kuda liar yang binal setiap melayani aku di ranjang. Dia selalu nampak haus dan menunggu belaianku. Warni termasuk perempuan yang tak mudah dipuaskan syahwatnya. Aku sering terpikir, seberapa jauh aku bisa mengimbangi hasrat birahinya. Atau, mampukan aku memberikan kepuasan seksual ke istriku Warni ini?!

Adakah itu pula yang menyebabkan lahirnya cerita si Giman tetanggaku itu? Mungkinkah aku terlampau lama melaut hingga Warni tak mampu menahan gelora syahwatnya? Ah.., memang selama ini aku selalu khawatir setiap memikirkan istriku Warni yang 'hot' itu saat aku berada di tengah samudra. Bayangan akan hadirnya lelaki lain memang sering dan membuat hatiku merana. Aku sering membayangkan seandainya itu terjadi. Aku jadi terpukul-pukul dan terluka oleh bayanganku sendiri.

Seperti biasa setiap pagi Warni pergi belanja ke pasar. Pagi itu saat hendak berangkat dia menawari aku ingin makan apa? Dia akan masak makanan kesukaanku. Aku serahkan pada dia untuk memilihnya. Aku ingin dia lekas keluar rumah ke pasar. Aku ingin melihat-lihat keadaan rumah, siapa tahu ada petunjuk tentang adanya lelaki tua itu.

Aku amati perabotan di rumah. Mungkin ada rokok tyang tertingal. Atau benda-benda khas lelaki lainnya. Aku juga buka-buka lemari pakaian. Adakah yang mencurigakan? Mungkin bau minyak wangi, atau ada baju baru yang kemungkinan pemberian lelaki tua itu.

Kemudia kulihat pula tas tangannya atau dompetnya. Siapa tahu disitu ada benda-benda yang pantas dicurigai?! Ternyata aku tak menemukan apa-apa. Aku lantas duduk diam. Memikirkan kemungkinan lainnya. Dan.. Achh, siapa tahu.. Aku pergi ke kamar mandi. Aku periksa pula pakaian kotornya yang masih nge-gantung di kamar mandi. Bukankah tadi pagi Giman masih memergoki lelaki itu?!

Aku lihat blus, kutang dan roknya. Kuamati dengan cukup cermat. Kulihat noda-noda keringatnya yang membentuk seperti peta. Itu tidak membuat aku khawatir atau curiga. Kini kuraih celana dalam Warni yang berwarna merah dengan kembang-kembang lembut. Kuamati cermat pula. Di arah selangkangannya, kemudian di bagian yang menutupi vaginanya. Disitu aku tiba-tiba.. Deg.. Jantungku berdegup kencang.. Aku melihat ada kilatan lendir yang menempel. Jariku cepat meraba.. Kembali.. Deg.. Benar.. Aku meraba lendir. Saat kuperhatikan nampak olehku gumpalan lendir macam putih telor.. Lebih lengket dan kental karena hampir mengering. Berarti peristiwanya belum lama.

Aku bisa pastikan ini peristiwa malam tadi. Sperma ini milik lelaki itu. Mungkin celana dalam itu untuk mengorek sperma yang menggumpal di lubang vagina istriku. Sperma yang ditumpahkan lelaki itu. Berkali-kali kuamati sampai aku yakin banget bahwa itu sperma. Sperma lelaki lain yang nempel di celana dalam istriku. Ah.. Kenapa kamu bisa begini Warnii..?!

Sekali lagi, kenyataan yang kutemukan itu semakin tidak membakar cemburuku. Bahkan penisku ngaceng menyaksikan sperma lelaki lain di celana dalam Warni ini. Bahkan pula, jari-jariku berusaha merasai benar-benar bagaimana lengketnya gumpalan sperma itu. Rasanya ingin dan sangat menyenangkan apabila aku bisa mendapatkan lebih banyak sperma lagi. Hidung dan matakupun berusaha menangkap citra sperma yang nempel celana dalam itu. Aku mencoba mendekatkan ke hidungku dan membauinya.

Kini aku dikejar oleh rasa penasaran. Bukan karena rasa cemburu. Penasaranku itu adalah rasa haus untuk menghadirkan khayalan bagaimana istriku menggigiti dada lelaki itu yang gempal berotot dengan penuh gairah. Bayangan Warni mendesak-desakkan pantatnya, sebagaimana yang dia lakukan padaku juga, yang tak sabar menunggu penis lelaki itu menembusi vaginanya. Dan bayangan Warni yang mendesah atau merintih saat menerima tusukkan penis Pak tua itu di kemaluannya. Aku ngaceng berat. Tanganku serasa ingin mengelusi penisku sambil meneruskan bayangan lelaki tua yang ngentoti istriku Warni.

Akhirnya aku perlu bersiasat. Aku persiapkan kemungkinan untuk mengintai kamar pengantinku. Aku pelajari situasi di luar kamarku. Aku mengambil bangku plastik bekas yang ringan dari gudang untuk pijakan berdiri mengintai dari kisi-kisi jendela kamarku itu. Aku samarkan adanya bangku itu di antara pot-pot tanaman hias yang terserak di luar jendela kamarku.

Untuk lebih meyakinkan Warni, dan juga cukup waktu untuk mereka berdua, Warni dan lelaki itu, untuk dirundung kerinduan saling bercumbu, pada malam pertama dan kedua kedatanganku aku benar-benar tinggal di rumah. Dan sebagaimana biasa saat sebagai suami istri kami menghabiskan waktu untuk berasyik masyuk menyalurkan syahwat birahi.

Pada pagi hari ke.3 aku bilang pada Warni istriku, bahwa aku menerima telpon dari nakhoda untuk memeriksa mesin, itulah tugasku di kapal, apakah perlu 'repair' selama menunggu bahan bakar. Mungkin aku mesti menginap di kapal untuk menyelesaikan tugasku itu. Dengan menampakkan seakan masih memendam rindunya, istriku melepas aku pergi. Dan aku pergi, tetapi bukan ke kapal.

Aku menyelinap masuk ke rumah Giman yang kebetulan lagi sendirian. Istri bersama anaknya lagi pulang mudik. Giman yang teman akrabku ini setuju akan membantu aku memata-matai ulah tingkah Warni istriku. Solidaritas tetangga, katanya. Aku menunggu hari gelap. Tunggu punya tunggu hingga pukul 10 malam tak ada orang yang datang ke rumahku. Dan aku yakin biasanya istriku sudah terlelap tidur. Dia termasuk orang yang tidak tahan melek.

Dan Giman yang sedianya akan membantu akupun telah tertidur di bangkunya. Nampaknya dia kelelahan dan tak tahan melek. Aku tak akan membangunkannya. Aku sendiri yang biasa terbiasa tidur tengah malam tetap membuka mata duduk di kegelapan beranda rumah Giman, mengawasi rumahku.

Tiba-tiba lampu depan rumahku.. Pet.. Mati. Pasti istriku yang mematikan lampu itu. Sekeliling rumahku jadi sepi. Aku jadi tegang. Kenapa? Adakah seseorang akan datang yang tidak boleh nampak oleh orang lain?

Ternyata aku tidak perlu menunggu jawaban terlalu lama. Sekitar 5 menit sesudah lampu dimatikan dari arah kanan, sekitar 50 m dari rumahku nampak seseorang berjalan dalam kegelapan. Yaa.. Seorang lelaki.

Dan tepat di pintu pagar rumah dia sesaat berhenti. Dia tengok kanan kiri untuk mengamati adakah orang lain yang melihatinya? Kemudian dia membuka pintu pagar dan bergegas masuk ke halaman rumah atau lebih tepat lagi menuju jendela kamar di mana adalah merupakan kamar pengantinku. Lelaki itu mengetok pelan. Mungkin sekitar 3 ketokan pada daun jendela itu.

Kemudian dia kembali bergegas ke pintu masuk rumah. Aku melotot tajam. Aku sangat tegang. Kuusahakan mataku tidak melepas pandangannya pada lelaki dan pintu itu. Tak sampai semenit nampak pintu itu terbuka. Yang nampak hanyalah lubang pintu yang gelap. Aku tak melihat istriku. Dia berada dalam kegelapan lubang pintu itu.

Dan dengan cepat lelaki itu menghilang dan pintunya kembali tertutup. Sepi kembali. Tetapi aku tidak sepi. Hatiku gemuruh sepertinya gelombang tzunami yang sedang menyerang pantai Larantuka dan melenyapkan pucuk-pucuk nyiurnya.
Ada semacam bara cemburu yang sangat merangsang hasrat birahiku. Bukan akan menghalangi percumbuan kedua insan ini. Kecemburuanku ini justru menginginkan 'pencurian nikmat syahwat' ini berlangsung sukses. Aku ingin, dan sangat ingin menyaksikan wajah istriku saat menerima nikmatnya sentuhan lelaki lain.

Aku ingin menyaksikan bagaimana Warni membuka pahanya yang putih indah itu 'ngangkang' menunggu penis lelaki itu mendekat ke vaginanya. Aku ingin bagaimana saat-saat penis lelaki itu menyentuh vaginanya. Duhh, duh.. Aku ngaceng berat, nih. Aku menunggu beberapa waktu sebelum aku mengendap memasuki halaman rumahku sendiri. Aku mencoba mendekat ke kamar pengantinku dan mendengarkan apa yang sedang terjadi.

Kupingku menangkap suara cekikikan istriku. Sepertinya dia menahan kegelian. Kemudian suara berat dari seorang lelaki yang terkesan penuh wibawa dan sangat melindungi,

"Ayoo, War.. sini. Jangan takut. Mas akan bantu supaya nggak terasa sakit" .. Hah..?
"Aku khan belum pernah, Mas. Lagian geli, gitu lho"
"Jangan khawatir, pelan-pelan saja kok. Biar kuludahi dulu agar licin"
"Ad.. Akhh.. Adduhh.. Pelan mass.. Hachh.. Aacchh..".
"Dikit lagii.. Huuchh.."
"Huucchh, ampuunn.. sudah Mass.. Jangaann.."

Edan.. Omongan itu membuat aku sangat tegang. Lagi diapain Warniku. Sepertinya dia menolak sesuatu yang disodorkan padanya tetapi membiarkannya sodoran itu jalan terus. Yang pasti bukan perkosaan atau jenis paksaan lainnya. Dan lelaki itu sepertinya sedang mengejar kenikmatan yang tak terhingga dari istriku,

"Ampuunn, Maass.. Enakk bangeett.. Dduh.. Sakiittnyaa.."

Sekali lagi edan.. Teriakan 'enak' dan 'sakit' datang bersamaan dan beruntun. Serta merta aku beranjak mengambil bangku plastik yang telah kusiapkan sebelumnya. Aku berdiri di atasnya dan melongok ke kisi-kisi jendela kamarku.

Hampir saja aku jatuh terguling begitu aku menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Aku seakan kena pukul palu godam penghancur beton sebesar mesin giling. Aku melihat lelaki tua itu sedang menaiki pantat istriku. Mereka berdua bugil seperti anjing di musim kawin. Kusaksikan tubuh lelaki tua itu sangat seksi. Dadanya gempal dengan bukit-bukit otot buah dadanya. Puting susunya nampak menghitam. Demikian pula bagian tubuh lainnya yang penuh otot membuat lelaki itu nampak sangat jantan. Dia seperti seorang petarung yang selalu menang. Tetapi yang membuat aku hampir kelenger adalah penisnya. penis lelaki itu sungguh besar dan panjang luar biasa. Aku jadi ingat tongkat pemukul 'base ball'.

Maka kini lengkaplah seluruh bentuk ke-kalahan-ku. Tampilan keseluruhan lelaki itu benar-benar menempatkan aku menjadi pecundang total. Dan aku yakin bahwa selama 2 malam bersamaku, Warni tidak benar-benar memberikan perasaan maupun hatinya padaku lagi. Dia pasti hanya tertuju nikmat-nikmat syahwat yang berlimpah dari lelaki ini. Lelaki ini terlampau hebat bagiku.

Bahkan telah menjadi kenyataan, aku kini benar-benar ngaceng melihat sosoknya. Aku sangat kehausan untuk menerima kenikmatan bagaimana dikecilkan, disepelekan, diabaikan, dikalahkan, dihina, ditinggalkan. Bagaimana nikmat martabat dan harga diriku dihancurkan, diluluh lantakkan oleh lelaki yang sangat seksi ini. Dan nikmat itu benar-benar telah merambati sanubariku saat ini dimana seperti anjing kawin lelaki itu lagi asyik berusaha ngentot lubang pantatnya.

Penis itu sedang mendesak-desaki pantat Warni. Dan Warni yang suaranya terus meng-'aduh' campur meng-'enak' bukannya sedang cemas atau ketakutan. Justru tangannya nampak aktip mengarahkan penis gede itu ke lubang pantatnya. Kontan ngaceng penisku langsung mentok habis. Aku membayangkan seakan mulutku menjadi pantat Warni yang harus menerima sodokkan kemaluan gede lelaki itu. Aku merasakan sakit adanya jepitan dalam celanaku. Aku terpaksa melepaskan kancing celanaku dan membuka resleitingku. Aku melepaskan kemaluanku dari jepitan celanaku. Dan tanganku menyenggolinya agar rasa gatal birahiku tersalurkan.

Nampak penis lelaki itu semakin bisa diterima pantat Warni. Dengan kocokkan-kocokkan kecil gerbang atau katup anal Warni akan terkuak. Kulihat lelaki itu menggerakkan pantatnya maju mundur mendorongi kemaluannya. Dan di pihak lain, Warni menyongsongkan pantatnya untuk menjemputi kemaluan gede lelaki itu.

Beberapa saat kemudian, dengan rintihan sakit dan sekaligus desahan nikmat yang keluar dari bibir Warni, lelaki tua itu mulai leluasa mengayun-ayunkan pinggul dan pantatnya untuk mendorong dan menarik penisnya masuk dan keluar menembusi dubur istriku Warni. Kemudian aku melihat dia merubah posisinya. Tubuhnya rebah memeluki punggung istriku. Dia mencium dan melumati punggung dan tengkuk Warni sambil tangan-tangannya meraih dan meremas-remas buah dadanya.

Aku kini benar-benar melihat ekspresi wajah istriku. Wajah yang sedang mengarungi awang nikmat itu matanya setengah tertutup. Dia terkadang mendongak dan kemudian merunduk bagai mahkluk yang gelisah. Sesekali kepalanya menyibakkan rambut panjangnya dengan cepat. Dan rambut itu terlempar ke belakang menyapu kepala lelaki yang sedang memagut tengkuk atau punggungnya.

Pantat lelaki itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya. Naik turun maju mundur, mengayun menggelombang seperti pantat zebra liar ditengah pelariannya saat dikejar sang 'predator' di padang Serengeti, Afrika. Bibir Warni terkadang menyeringai pedih, terkadang lain seperti senyum yang sarat nikmat. Makin jelas nampak olehku dua orang manusia ini sedang dalam perjalanan nikmat surgawi di anjungan syahwat birahi hewaniah mereka yang lepas dan liar.

Aku perhatikan seprei ranjang pengantiku telah teraduk berantakkan. Bantalku nampak terlempar ke lantai menindih busana istriku dan busana lelaki itu. Sepertinya para busana itupun sedang saling berasyik masyuk di mataku. Amppuunn..

Aku tak tahan lagi. Aku bukan cemburu atau sakit hati. Kini justru aku merasakan nikmat syahwat yang luar biasa. Menonton Warni yang demikian menampakkan nikmat dalam pompaan lelaki itu aku mendapatkan sensasi birahiku. Belum pernah kurasakan kenikmatan yang luar biasa macam kini. Membayangkan Warni melupakan aku yang suaminya mendorong tanganku dengan cepat mengelusi dan mengocokki kemaluanku. Aku semakin terangsang dengan adanya suara merintih atau mendesah dari istriku karena jejalan penis lelaki itu di lubang pantatnya. Tetapi ada yang bagai dinamit meledakkan nafsuku adalah saat kudengar pula suara lelaki itu,

"Ayoo, Warni, enakk nggaakk peniskuu?? Enakk?? Enak mana dengan penisku atau penis suamimu?? Ayyoo Warnii.. Ngomongg.. Enak mana penisku atau penis suamimu..??"

Dan belum juga Warni menyahut pertanyaan lelaki itu aku yang telah mendengarnya langsung bergetar.

Lututku langsung gemetar. Aku merasakan merinding dan darahku mendesir hebat. Aku merasakan semakin nikmatnya mengocok kemaluanku sendiri. Aku merasakan spermaku sudah teraduk dari kelenjarnya. Aku merasakan seakan spermaku akan terkuras habis saat mendengar omongan lelaki tadi. Aku menghadapi orgasmeku dengan hasrat nikmat yang belum pernah kualami. Aku berteriak tertahan sambil mataku terbeliak menyisakan warna putihnya.

Berdiriku oleng dan aku akan jatuh terjengkang. Pegangan tanganku pada kisi-kisi jendela itu luput. Dan kini aku benar-benar melayang ke arah belakang terjerembab jatuh ke tumpukan puing bekas bongkaran rumahku. Entah terluka atau tidak aku tak lagi merasakannya. Aku cepat beringsut ke kegelapan, khawatir suara jatuhku membuat yang di dalam kamar pengantinku mendengar dan mencari sumber suaranya. Aku tetap terus mengocok penisku. Nikmat ini harus kukejar dan selesaikan hingga puncak syahwatku itu tumbang. Dalam keadaan terguling ke bebatuan dan akhirnya tersungkur ke tanah spermaku muncrat-muncrat. Aku benar-benar meraih kepuasan nafsu birahiku. Aku terseok kemudian bersandar ketembok dan terkulai.

Aku yakin mereka, lelaki tua itu dan istriku Warni terlampau asyik menimba nikmat yang sedang mereka rengkuh sehingga sama sekali tak mendengar suara aku jatuh terjerembab. Bahkan saat aku telah terkuras tenagaku berkat spermaku yang tumpah ruah mereka belum juga usai berayun-ayun. Suara-suara desah dan rintih mereka semakin cepat saling bersahutan.

Aku masih perlu waktu untuk mengembalikan hasrat seksualku. Biarlah aku mendengarkan saja suara-suara itu hingga iramanya terdengar semakin tak terkendali. Itu pertanda bahwa mereka kini sedang menapaki puncak syahwatnya. Tetapi akhirnya aku tergelitik untuk kembali mengintip. Aku betulkan letak bangkuku kembali. Kali ini aku jaga dari kemungkinan terguling kembali. Dengan hati-hati aku menaiki kursiku dan tanganku berpegang kuat pada kisis-kisi jendelaku. Aku lihat tubuh istriku basah mengkilat oleh keringatnya. Demikian pula lelaki itu. Tubuhnya nampak dialiri keringatnya yang menderas. Wajahnya setiap kali disapunya agar matanya tidak pedih tertutup keringatnya.

Kini mereka benar-benar sedang berpacu dengan hasrat birahinya yang meledak-ledak. Kepala istriku yang bergoyang mengibas-ibaskan rambutnya telah nyata dalam keadaan setengah sadar. Dia sedang terbang di samudra nikmat tak terhingga. Dia akan melupakan berbagai hal. Dan tak mungkin secuilpun mengingat aku. Kenikmatan itu benar-benar telah merampas kesadarannya.

Rasa panas atau pedas pada lubang duburnya tak lagi menjadi kendala. Pacuan itu mendekati garis finalnya. penis lelaki itu terus menggojlok-gojlok meruyaki lubang analnya. Dinding anus Warni mungkin sedang meremas-remas batang penis lelaki itu. Hingga..

Datanglah puncak nikmat mereka. Lelaki itu menyambar rambut istriku dan menjadikannya tali kekang. Dia menghela istriku bagai kuda tunggangannya. Dia berteriak dan mendesis. penisnya menyemburkan cairan panas yang sangat kental ke dalam lubang anus Warni. Bertubi-tubi puncratan sperma yang didahului kedutan urat-uratnya menyemprot dari lubang penisnya.

Secara bersamaan keduanya tumbang dan rubuh ke ranjang. Tetapi seperti anjing kawin pula, kemaluan lelaki itu tidak lepas dari lubang anal Warni. Dan dalam posisi saling diam mereka sepertinya mempertahankan penis yang terbenam dalam anus itu. Dari arah belakang lelaki itu justru mempererat rangkulannya, dan sebaliknya Warni juga semakin memegang lengan berotot lelaki itu. Adegan diam itu berlangsung seperti sebuah 'pantomime'. Berlangsung bermenit-menit.

Kemudian aku mulai melihat si lelaki bergerak. Dia memajukan mukanya untuk bisa mencium Warni. Dan dengan refleksnya Warni menyambut. Dalam keadaan 'gancet' dimana tubuh yang satu lengket pada tubuh lainnya, mereka berlumatan bibir. Bibir-bibir Warni membuka dan mengatup merespon bibir-bibir lelaki itu. Mereka meludahi dan diludahi. Mereka saling menikmati dan meminum ludah lawannya. Warni menelan dengan setengah menutup matanya.

Dengan cara itu rupanya mereka ingin memulai kembali permainan syahwatnya. Mereka ingin mengulang ledakkan nikmat yang didapatkan sebelumnya. Mereka kini ber-ancang-ancang memasuki ettape lanjutan. Ciuman mereka berkembang semakin panas. Mulut lelaki itu mulai turun merambahkan ciumannya ke dagu Warni. Aku mendengar desahan tertahan dari mulut Warni.

Aku juga melihat penis lelaki itu melepas dari lubang anus dan Warni berbalik hingga mereka menjadi saling berhadapan. Bibir lelaki itu mengejar gundukkan payu dara Warni. Bibir yang menggigit dengan gemas membuat Warni bergelinjangan meliak-liukkan tubuhnya bak ular kobra dalam tangkapan.

Berikutnya adalah Warni yang ganti mematuk. Dia menghunjamkan ciumannya ke leher lelaki itu. Dia juga menggigit-gigit kecil dan menarik bibirnya turun melata dari leher menuju ke dadanya. Otot-otot gempal lelaki itu menjadi sasaran hasrat birahi istriku. Dia menggigit penuh dendam gumpalan otot buah dada lelaki tua itu.

Warni menjadi sangat menikmati saat merasakan betapa lelaki itu menggelinjang dan mengaduh nikmat. Warni jadi mem-buas. Tangannya menggapai bagian-bagian tubuh lelaki itu dengan sangat liarnya. Dia raih apapun yang menonjol pada tubuh lelaki itu. Tangannya meremas, mencengkeram dan terkadang juga mencakar.Ciuman Warni terus turun ke perut. Godaan hasratku bangkit menyaksikan otot perut lelaki tua itu. Demikian kencang dan sangat serasi tampilannya. Aku iri dengan bentuk perut indah macam itu. Betapa nikmat selusuran bibir Warni merambahi perut lelaki itu.

Rasa iriku ini mendorong nafsuku untuk ikut menciuminya. Yaa, aku demikian ingin menciumi tubuh lelaki yang jelas-jelas telah menggeluti dan menumpahkan spermanya ke tubuh istriku sendiri. Aku dilanda sensasi erotis yang membuat orientasi seksualku tiba-tiba bergeser. Aku yang seharusnya melawannya malahan kini menjadi menikmati syahwat dari kekalahanku. Aku berubah menjadi pemuja penaklukku. Aku ingin menggantikan peranan Warni. Aku membayangkan aku sebagai Warni yang sedang menciumi otot-otot gempal lelaki yang bukan suamiku. Aku menjadi sangat kehausan.

Tenggorokanku terasa sangat kering. Dan rasanya obatnya hanyalah menyaksikan sperma lelaki itu tumpah di mulut istriku dengan bayangan syahwat yang membuat seakan sperma itu tumpah di mulutku. Tampak Warni tak melewati seinchipun ciuman dan bahkan kini juga jilatannya pada perut lelaki itu. Dan aliran bibir dan lidah Warni alur selanjutnya sudah kubayangkan. Pasti ciuman dan jilatannya akan meluncur ke arah kemaluan lelaki itu. Dan itu terjadi.

Warni memang type perempuan penikmat syhawat sejati. Lihatlah, tangannya yang penuh perasaan dan peka dia merintis dengan rabaan-nya merambah ke wilayah kemaluan lelaki itu. Dan kini bibir Warni 'napak tilas' mengikuti alur rintisan tangannya. Lidah dan bibir Warni menapaki jalur jari-jarinya untuk mencium dan menjilati batang kemaluan lelaki itu. Seperti si buta dengan tongkatnya. Jari-jari Warni menjadi pedoman bibir dan lidahnya dalam upaya melumat 'tongkat base ball' milik lelaki itu. Dan kini jari-jarinya sedang mengelusi batang tegar kaku serta hangat penuh otot itu untuk menuntun jalan jilatan dan lumatan lidahnya.

Dan ketika bibir dan lidah Warni menyentuh kemudian menciumi dan menjilati batang penis itu, si lelaki tua mendesis. Kenikmatan erotis yang sungguh luar biasa telah menimpanya. Tangannya yang kekar penuh otot merampas rambut-rambut Warni dan memerasinya. Dia menebar rasa pedih pada kulit kepala istriku. Dia ingin mendengarkan rintihan sakit yang nikmat dari mulut Warni. Saat dia benar mendengar rintih dan jerit sakit Warni, tangannya menekan keras kepala istriku. Dia tunjukkan keinginan hewaniahnya. penisnya dijebloskan lebih dalam ke mulut Warni. Dia ingin istriku melumati penisnya.

Tak lama kemudian kusaksikan lelaki itu cepat berbalik. Dia dorong Warni untuk telentang. Lelaki tua itu bergerak setengah berdiri untuk melangkahkan pahanya dan meng-angkangi dada istriku. Masih dalam remasan tangannya rambut Warni ditekankannya ke bantal sehingga kepala Warni terdongak dengan bibir yang setengah menganga. Pada saat itulah kangkangan lelaki itu bergeser maju. penisnya kembali disorongkan ke mulut istriku agar dilahapnya. Dan istriku cepat me-respon. Kini aku menyaksikan kembali gerakan mengayun. Dengan penisnya yang gede panjang lelaki itu ngentot mulut istriku Warni.

Seperti bayi yang berangkang dengan selangkangannya pas diatas wajah lelaki itu berayun naik turun memompa mulut istriku. penisnya keluar masuk menembusi bibir indah Warni. Nampak pipi Warni menjadi penuh seperti anak rakus yang menjejalkan seluruh kuenya masuk kemulutnya. Mulailah kedua mahkluk ini saling mengayuh, yang satu jemput dengan mulutnya dan yang lain antar penisnya.

Ucchh.. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan..

Aku mengakui stamina hasrat seksual kedua orang ini. Belum lama mereka telah menumpahkan hampir semua energinya saat menjemput orgasmenya tadi, kini mereka telah kembali ke arena pacu untuk kembali melampiaskan syhawat birahinya. Aku yakin puncak nikmat ke dua segera menyusul.

Aku sendiri sepertinya kena sihir. Apa yang istriku lakukan bersama lelaki itu telah meng-eksplorasi seluruh cadangan energiku. Aku telah pulih dan langsung bergairah untuk kembali melakukan eksplorasi pada kemaluanku. Tanganku mengelusi, mengocok-ocok, menjepit atau mencubiti penisku yang tak seberapa besar ini. Aku mencoba merasakan setiap elusan atau kocokkan tanganku sejauh bisa merangsang libidoku. Apa yang kini tampak di depan mataku mendorong habis hasrat birahiku. Aku mempercepat kocokkanku seiring dengan percepatan kuluman dan pompaan penis lelaki itu pada mulut istriku.

Kini aku merasakan kembali nikmatnya tanganku mengocok sendiri kemaluanku. Saraf-saraf peka baik yang langsung tersentuh elusan atau kocokkan tanganku maupun yang cukup tersentuh oleh khayalan syahwat ku telah berhasil merangsang kantong spermaku untuk memompakan simpanannya. Kini tak bisa kuhindari, aku merasakan spermaku merambati jaringan pipa-pipanya untuk selekasnya bisa menyembur keluar dari penisku. Yang membuat aku menjadi sangat terbakar adalah datangnya khayalanku yang bisa melahirkan sensasi baru bagi dorongan syahwatku.

Aku membayangkan betapa aku menjadi Warni yang kini sedang dijejali batangan panas gede dan panjang milik lelaki itu. Aku membayangkan tak lama lagi cairan kental panas akan luber muncrat memenuhi mulutku. Aku sudah membayangkan rasa asin, gurih, lengket atau kenyal-kenyal sperma lelaki itu di mulutku. Yang kemudian mengalir memasuki tenggorokanku.

Rambatan itu demikian gatal dan nikmatnya. Dengan paduan penuh irama tanganku yang mengelus, mengocok dan mejit-pijit aku sedang memasuki ambang orgasmeku. Aku semakin melototkan kepalaku ke arah wajah istriku. Kulihat pompaan penis lelaki itu mengayun semakin cepat dan semakin cepat.. Cepat.. Cepat..

Woowww.. Ayyoo.. Warnii.. Hohh.. Hohh.. Hohh.. Wajah lelaki itu.. Wajah ituu..

Aku kembali melayang.. Gelapnya malam serasa berputar.. Bayangan lampu jalusi nampak bergoyang seperti jendela kapalku. Kembali tanganku di jalusi itu lepas. Kembali aku terayun limbung. Kakiku tak mampu berpijak tegak. Bangku plastikku lepas dari injakanku. Amppuunn.. Aku tak mampu melepaskan kocokkan tanganku..

Spermaku muncrat tepat saat aku oleng dan melayang jatuh terguling ke tumpukkan puing bongkaran rumahku. Sementara itu sayup-sayup kudengar pula suara lelaki dan perempuan yang seperti sedang meregang jiwa dari kamar pengantinku. Rupanya pada saat yang bersamaan aku dan mereka sama-sama dilanda gegap orgasme.

Tanganku masih terus menggerakkan kocokkannya untuk memperpanjang nikmat orgasme dengan berusaha menangkapi suara-suara erotis dari istriku bersama lelaki itu. Dan hasilnya adalah hadirnya orgasme beruntunku. Desahanku serasa tak pernah henti. Dalam keadaan terjerembab ke tumpukan puing itu aku terus mendesah dan mendesis mengiringi denyutan muntah spermaku. Entah apa yang terjadi, rasanya spermaku terus muntah tak mau berhenti.

Pelan-pelan aku bergeser ke kegelapan di balik pot-pot tanaman hias. Aku tunggu beberapa saat kemungkinan yang berada dalam kamar mendengar suara jatuh dan menengok keluar jendela. Ternyata tak ada yang memperhatikan jatuhku. Rupanya mereka begitu asyik dalam jebakan nikmat syahwatnya. Mereka tetap tidak mendengar suara yang cukup gaduh karena tubuhku yang terjengkang ke puing ini. Aku sendiri sudah nggak lagi tahu, apakah aku terluka atau tidak.

Aku masih tetap ingin menuntaskan keingin tahuanku. Sejauh mana dan apa yang diperbuat Warni istriku bersama lelaki itu dalam kamar pengantinku. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku terseok bangun dari tumpukan puing di luar jendela kamarku. Walaupun tubuhku terasa ngilu dan pedih aku tetap berusaha mengatur bangku plastik untuk kembali ke lubang kisi-kisi jendela.

Kulihat betapa Warni yang memang betul-betul perempuan penuh haus syahwat ketemu dengan lelaki yang memiliki kekuatan untuk melayaninya. Dalam telanjang bugilnya dan coreng moreng wajahnya sperma di seputar mukanya istriku menindih dan memagut bibir lelaki itu. Nampak sesekali mengangkat wajahnya untuk melihati wajah lawannya kemudian kembali memagut bibir dan mengelus-elusi rambut lelaki itu.

Ooo.. Rupanya Warni masih menuntut agar vaginanya mendapatkan giliran penis lelaki itu. Nampak kini tangan kanannya turun untuk mengelusi kemaluan lelaki itu. Dan nampak banget olehku betapa Warni begitu 'keranjingan' pada penis gede panjang milik lelaki itu. Kusaksikan lembutnya tangan Warni demikian bertolak belakang dengan kasar otot-otot kemaluan lelaki itu. Dan tangan lembut itu memeras, memijit dan mengelusi batang yang kekar dan kasar itu. Sungguh sebuah 'kontrastistik erotisme' yang sangat indahnya.

Tak diragukan lagi, kedua insan ini langsung memasuki keadaan yang memanas penuh atmosfir birahi. Warni dan lelaki itu siap untuk menempuh pergulatan barunya. Mereka memasuki ettape ke.3-nya menuju puncak syahwat berikutnya. Dan yang terjadi kemudian kendali di atas ranjang itu beralih ke sang lelaki itu. Dia mendorong telentang kembali tubuh Warni. Dia raih tubuh itu pada tungkai kakinya menuju pinggiran ranjang.

Tepat saat bokong Warni menyentuh tepiannya, lelaki itu mengangkat tungkai kiri Warni untuk dipanggul ke bahunya sementara tungkai lainnya menjuntai ke lantai. Selanjutnya yang terlihat adalah penis lelaki itu dengan pasti diarah tuntunkan ke vagina istriku yang sudah demikian menantinya.

Semuanya berjalan begitu mengalir, seakan hal demikian sudah merupakan ritual rutin dalam pertemuan-pertemuan mereka. Butuh beberapa detik untuk lelaki itu mendesakkan kemaluannya ke vagina Warni. Aku melihat betapa kepalanya penis yang demikian bulat dan berkilatan menekan bibir vagina Warni hingga terbawa melesak ke dalam. Dan betapa desis nikmat langsung terbit dari mulut istriku mengiringi amblasnya penis ke dalam lubang kemaluannya.

Yang kusaksikan melalui kisi-kisi jendelaku ini menjadi 'gong' dari perselingkuhan istriku dengan lelaki itu. Dalam posisi begini kulihat mereka lebih 'profesional' dalam saling mengayun. Irama sodokkan penis dan lahapan bibir vagina yang teriringi oleh desah dan rintihan bertalu-talu dari pasangan selingkuh itu. Wajah lelaki yang begitu nikmat merasai lubang sempit vagina istriku, atau wajah istriku yang begitu hanyut dalam pusaran nafsu birahinya merasai batang tegar gede panjang milik lelaki yang bukan suaminya itu benar-benar sesuatu yang nyata telah kuhadapi.

Dan tak aku pungkiri, aku menikmati ke-selingkuhan istriku. Aku menikmati bayanganku yang mengajak orientasi seksualku untuk bergeser ikut menjilati atau melahap tubuh lelaki itu. Aku merindukan peristiwa ini berulang dan aku bisa menyaksikannya lagi.

Goyang dan ayun Warni bersama lelaki itu sampai pada puncaknya saat tiba-tiba istriku bangkit dan tangannya merenggut gumpalan dada lelaki itu. Kulihat cakarnya terhunjam pada daging dadanya yang menghasilkan alur luka yang panjang berdarah. Itulah puncak orgasme Warni yang buas dan liar. Nafsu hewaniahnya yang tak pernah dia perlihatkan padaku.

Ketika segalanya telah usai, sementara ketelanjangan dalam kamar pengantinku belum juga berakhir, lelaki itu mengambil sepotong kain berwarna terang dan lembut yang terserak di lantai. Sementara Warni istriku telentang kelelahan di ranjang, dengan sabar lelaki itu menge-lap sperma dia yang tercecer pada tubuh istriku dengan celana dalam istriku yang ada di tangannya.

Dia menge-lap spermanya yang meleleh dari lubang dubur, dari lubang vagina serta di seputar selangkangannya dan juga yang terserak di dagu, pipi, leher serta buah dada istriku. Kuperhatikan pula saat celana dalam istriku dia lemparkan kembali ke lantai. Aku tak lagi menyangsikan cerita Giman. Tetapi aku hari ini bukan lagi aku kemarin lusa yang seorang suami baru turun dari kapalnya. Aku sekarang adalah lelaki yang menikmati istrinya mendapatkan nikmat syahwat dari lelaki lain.

Lelaki itu pulang sangat dini hari. Mungkin sekitar pukul 4.30 pagi. Mungkin istriku mengingatkan kemungkinan aku suaminya pulang pagi ini.

Dan aku memang pulang pagi ini. Aku telah berdiri di ambang pintu rumahku jam 7.30 pagi. Istriku menyambut aku dengan penuh rindu. Dia sedang bersiap untuk belanja ke pasar. Dia bertanya padaku ingin masakan apa untuk makan siang nanti. Aku serahkan saja padanya. Dia toh tahu kesukaanku. Aku hanya berharap Warni lekas berangkat ke pasar. Aku sudah tak sabar untuk memasuki kamar mandi.

Aku menemukan apa yang sangat ingin kutemukan pagi itu. Celana dalam istriku yang berwarna terang dan lembut nampak berada di gantungan kamar mandi. Tanganku meraihnya dan jari-jariku merabainya hingga kutemukan gumpalan lengket itu. Kini aku tak lagi sekedar menciumnya. Aku mempersiapkan seluruh diriku. Celana dalam itu kuamati lebih cermat. Kupandangi dimana saja gumpalan-gumpalan lengket nempel pada celana dalam itu. Kemudian aku memulai apa yang sangat aku rindukan. Aku dekatkan celana dalam itu kemulutku. Aku mulai melahap. Aku lumat-lumat celana itu pada gumpalan lengketnya. Aku merasai sperma dingin yang sangat kental larut dalam mulutku. Aku meyakini sedang mengunyah dan akan menelan sperma milik lelaki teman selingkuh Warni istriku.

Aku mendapatkan nikmat orgasmeku tanpa tanganku menyentuh apalagi mengocok penisku. Air maniku muncrat-muncrat saat sperma lelaki itu mulai mengaliri tenggorokanku.